Sabtu, 09 Juni 2012

Desaian evaluasi maharoh kalam


METODE MEMBACA  (QIRO’AH) DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB DAN PENGAPLIKASIANNYA

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Evaluasi  Pembelajaran Bahasa Arab
Pengampu : Ali Subhan

oleh: Ummi Luthfiyah
A.    Latar belakang
Tidak asing lagi bagi kita bahwasanya Kalam merupakan ketrampilan dasar yang menjadi bagian penting dalam pembelajaran bahasa Arab. Ketrampilan  ini tergolong sebagai maharah istintajiyah (productive skill). Sebab hal itu menuntut adanya peran aktif peserta didik agar dapat berkomunikasi secara lisan (syafawiyah) dengan pihak atau komunitas yang lain. Aspek ketrampilan ini dapat dikatakan ketrampilan yang paling dominan diantra ketrampilan-ketrampilan yang lainnya setelah istima`. Dalam mengajarkan ketrampilan berbicara, seorang guru hendaklah perlu diperhatikan tingkat kemampuan siswa. Untuk itu, guru dapat mengenal jenjang kemampuan kalam dan apa yang harus dilakukannya. Sehingga guru dapat memnentukan materi yang sesuai dengan kemampuan siswa.
Perlu kita ketahui secara umum, tujuan pembelajaran kalam adalah agar peserta didik memiliki kemampuan menyusun kalimat sempurna sesuai dengan kaidah bahasa arab yang benar, mampu memilih kata-kata yang tepat dan konstektual serta berfikir dan berujar dengan bhasa arab. Tujuan pembelajaran kalam pada intinya kebanyakan berupa dialog. Melalui dialog secara tidak sengaja memancing untuk berbicara yang identiknya akan dipengaruhi beberapa factor diantrannya: pelafalan, intonasi, pilihan kata, struktur kata dan kalimat pembicaraan..
Maharoh kalam disamping memahami tujuannya yang penting itu, seorang guru harus mampu bagaimana cara mendesain evaluasi maharah kalam yang terdapat berbagai macam cara atau bentuknya. Salah satunya bentuk evaluasi yang diberikan perserta didik harus sesuia dengan tingkat kemampuan masing-masing siswa.
Tujuan tes kemampuan berbicara adalah untuk mengukur kemampuan test dalam mengguanakan bahasa arab sebagai alat komunikasi lisan. Kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan mengkomunikasikan ide, perasaan, gagasan, maupun fikiran dan kemampuan memahami ujaran mitra tutur. Disamping itu, evaluasi maharah kalam juga untuk mengetahui sejauhmana keberhasilan siswa dalam melakukan peoses belajarnya. Bentuk dari evaluasinya baik dilakukan berupa tes maupun non tes.
Oleh karena itu, dalam makalah ini pemakalah akan membahas tentang bagaimana cara mendesain evaluasi maharotul kalam diantarannya adalah konsep Pembahasan maharotul kalam, metode dalam pengajaran maharoh kalam, cara  mendesain evaluasi maharotul kalam, dan cara penyekoran evaluasi maharotul kalam.
B.     Pembahasan
v  konsep Pengajaran maharotul kalam
Berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan kepada orang lain. Berbicara identik dengan penggunaan bahasa secara lisan. Penggunaan bahasa secara lisan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi berbicara secara langsung adalah : a) pelafalan, b) intonasi, c) pilihan kata, d) struktur kata dan kalimat, e) sistematika pembicaraan, f) isi pembicaraan, g) cara memulai dan mengakhiri pembicaraan, serta h) penampilan (gerak-gerik, penguasaan diri, dll). Berbicara adalah salah satu keterampilan berbahasa. Aspek-aspek keterampilan berbahasa lainnya adalah menyimak, membaca, dan menulis.
Pada hakekatnya kemahiran berbicara merupakan kemahiran menggunakan bahasa yang paling rumit, yang dimaksud dengan kemahiran berbicara adalah kemahiran mengutarakan buah pikiran dan perasaan dengan kata-kata dan kalimat yang benar, ditinjau dari system gramatikal, tata bunyi.
Terdapat factor yang penting dalam menghidupkan kegiatan berbicara ini adalah keberanian siswa dan perasaan tidak takut. Oleh karena itu guru harus dapat memberikan dorongan kepada siswa agar berani berbicara tanpa berfikir resiko salah.
v  Metode dalam pengajaran maharotul kalam
Adapun metode dalam pengajaran kalam adalah sebagai berikut
1.  Metode Langsung (Ath-Thari:qah Al-Muba:syirah)
Metode langsung berasumsi bahwa proses belajar bahasa kedua atau bahasa asing (seperti bahasa Arab) sama dengan bahasa ibu, yaitu dengan penggunaan bahasa secara langsung dan secara intensif dalam komunikasi lisan kemudian tulisan. Tujuan metode tersebut adalah penggunaan bahasa secara lisan agar siswa dapat berkomunikasi secara alamiah seperti penggunaan bahasa Arab di masyarakat Arab. Penggunaannya di kelas harus seperti penutur asli. Teknik pembelajaran secara umum dapat berupa penyajian kata-kata konkret dalam komunikasi melalui demonstrasi, peragaan benda langsung dan gambar, atau melalui asosiasi, konteks, dan definisi.
2.   Metode Audiolingual (Ath-Thari:qah As-Sam`iyah Asy-Syafahiyah)
Metode audiolingual berasumsi bahwa bahasa itu pertama-tama adalah ujaran. Oleh karena itu pengajaran bahasa harus dimulai dengan memperdengarkan bunyi-bunyi bahasa dalam bentuk kata atau kalimat kemudian mengucapkannya (kalam) sebelum pelajaran membaca dan menulis.Asumsi lain dari metode ini ialah bahwa bahasa adalah kebiasaan. Suatu perilaku akan menjadi kebiasaan apabila diulangi berkali-kali. Begitu pula dalam pengajaran kalam, siswa akan terampil dalam berbicara karena terbiasa berbicara (dalam bahasa Arab).3. MetodeKomunikatif (Ath-Thari:qah Al-Ittisha:liyah).
2.  Metode komunikatif
Metode ini berasumsi bahwa penggunaan bahasa tidak hanya terdiri atas empat keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis), tapi mencakup beberapa kemampuan dalam kerangka komunikatif yang luas, sesuai dengan peran dari partisipan, situasi, dan tujuan interaksi.
Teknik pembelajaran secara umum dapat berupa penyajian materi yang bervariasi, tidak hanya mengandalkan buku teks, tetapi lebih ditekankan pada bahan-bahan otentik (berita Koran, iklan, menu, KTP, SIM/ STNK, formulir-formulir dll). Untuk itulah dengan metode komunikatif ini dapat mengembangkan kompetensi siswa dalam berkomunikasi lisan dengan bahasa target (misal bahasa Arab) dalam konteks komunikatif yang sesungguhnya.


v  Cara  mendesain evaluasi maharotul kalam
Mengukur kemampuan berbicara bahasa Arab adalah mengukur kemampuan siswa dalam mengekpresikan ide, pikiran dan perasaan siswa dalam bahasa Arab lisan. Tes kemampuan berbicara merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam tes bahasa. Sebagai kemampuan berbahasa aktif dan produktif, kemampuan berbicara menuntut penguasaan terhadap beberapa aspek dan kaidah penggunaan bahasa. Berkaitan dengan hal ini, bahwa tidak ada kemampuan berbahasa yang begitu sulit untuk dinilai sebagaimana tes berbicara. Berbicara hakikatnya merupakan keterampilan yang sangat kompleks yang mempersyaratkan penggunaan berbagai kemampuan. Kemampuan tersebut meliputi:
a.  Pelafalan
b.  Tata bahasa
c.  Kelancaran
d.  Pemahaman (kemampuan merespon terhadap suatu ujaran secara baik)
Perlu kita ketahui sebelumnya, bahwa dalam latihan maharotul kalam terdapat beberapa tahap. Pada tahap permulaan, latihan berbicara dapat dikatakan serupa dengan latihan menyimak. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, dalam latihan menyimak ada tahap mendengarkan dan menirukan. Latihan mendengar dan menirukan tersebut merupakan gabungan antara latihan dasar untuk kemahiran menyimak dan kemahiran berbicara. Namun bagaimanapun juga tujuan akhir dari maharaoh kalam adalah kemampun siawa untuk berekspresi (ta`bir).
Dalam tes keaampuan berbicara bertujuan untuk mengukur kemampuan siswa dalam menggunakan bahasa Arab cesara lancar dan benar dalam berkomunikasi secara lisan. Adapun untuk mencapai tujuan itu, guru diharapkan mengubah pola pengajaran dari tingkat menirukan atau memperagakan ketingkat bagaimana agar siswa mampu mengungkapkan gagasan, ide tau pikiran secara lisan.
Berikut ini merupakan beberapa model tes berbicara. Urutan nomer menunjukkan gradasi/tingkat kesukaran walaupun tidak mutlak diantaranya adalah:
1.    Mendeskripsikan gambar
Siswa dimintai untuk mendeskripsikan gambar secara lisan dengan menggunakan bahasa Arab, dalam mendeskripsikan gambar terkadang diberi beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan gambar atau secara bebas siswa dimintai mendeskripsikan apa yang dilihat dalam gambar.
2.    Berbicara bebas
Dalam berbicara bebas ini, tema dan judul dapat digunakan dalam berbicara bebas diupayakan dengan tema atau judul-judul yang telah siswa ketahui sebelumnya, hal ini bertujuan agar siswa tidak kesulitan dalam masalah isi, karena tujuan utamanya adalh untuk mengukur kemampuan siswa dalam berbicara bahasa arab bukan pada penguasaan isinya.
3.    Bercerita
Yang dimaksud dengan bercerita bebas disini adalah suatu kegiatan tes kemampuan berbicara yang menuntut teste menceritakan topik-topik tertentu secara bebas. Topik-topik yang dimaksud dapat disediakan oleh guru, kemudian teste memilih sendiri topik yang sesuai dengan selera, pengetahuan dan pengalamannya atau pihak teste diminta mencari topik sendiri sesuai dengan selera atau pengalamannya.
4.    Diskusi
Diskusi selain alat untuk mengukur kemampuan siswa dalam beragumentasi, juga dapat mengukur kemampuan berbicara, dalam diskusi ini, teste diminta untuk mengemukakan dan mempertahankan pendapat, ide dan pikirannya serta merespon pendapat, ide dan pikiran orang lain secara kritis dan logis. Dalam hal ini, sudah barang tentu kemampuan mengguanakan bahasa sebagi alat komunikasi lisan merupakan indikator yang sangat subtansial dan esensial dalam mencermati kegiatan diskusi.
5.    Wawancara
Wawancara merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengukur kemampuan berbicara pembelajar (teste) dalam bahasa arab. Kegiatan wawancara dilakukan oleh seorang penguji atau lebih terhadap teste. Dalam melakukan wawancara, seorang penguji seyogyanya menciptakan situasi yang kondusif agar teste merasa tenang, bebas tidak merasakan tertekan dan tidak merasa diintograsi.
Perihal yang dipertanyakan dalam wawancara tersebut dapat menyangkut berbagai hal, tetapi hendaknya disesuaikan dengan tingkat usia dan kemampuan siswa, misalnya berkaitan dengan identitas pribadi siswa, keadaan keluarga, maupun kegiatan sehari-hari. Suatu hal yang perlu diperhatikan oleh guru dalam memilih materi wawancara adalah teks bahasa arab yang sudah dipelajari siswa.

6.    Berpidato
Pidato juga dapat dikatagorikan sebagai salah satu bentuk tes untuk mengukur kemampuan berbicara siswa. Dalam konteks pengajaran dan penyelenggaraan tes berbicara, tugas pidato dapat berwujud permainan simulasi, misalnya siswa bersimulasi sebagai kepala sekolah yang berpidato dalam upacara bendera, menyambut tahun ajaran baru, memperingati hari-hari besar nasional, atau hari-hari besar keagamaan.
7.    Drama
8.    Latihan Asosiasi dan identifikasi
9.    Latihan pola kalimat
10.   Latihan percakapan
v  Cara penyekoran evaluasi maharotul kalam
Kemampuan speaking siswa diskor dan dinilai oleh assessor, yang telah mendapat pelatihan khusus, untuk menilai berdasarkan format dan kriteria tertentu yang disepakati.
Berikut adalah beberapa aspek yang akan dinilai dari kompetensi berbicara atau maharah kalam dalam pembelajaran bahasa Arab.
Nilai akhir Kalam adalah gabungan atau akumulasi dari wacana transaksional, interpersonal dan monolog.
Ketentuan dan perhitungan masing-masing wacana sebagai berikut:
ü Transaksional Total score = 16 nilai = 30 (skala 100)
ü Interpersonal Total score = 16 nilai = 30 (skala 100)
ü Monolog Total score = 16 nilai = 40 (skala 100)
ü  
Contoh perhitungan nilai akhir untuk masing-masing wacana:


Rumus:                                       x Nilai
Misal untuk :
ü Transaksional Edi Susilo memperoleh skor perolehan 10 dari 16. Maka dia mendapat nilai:      x 30 = 18,75
ü Interpersonal Edi Susilo memperoleh skor perolehan 12 dari 16. Maka dia mendapat nilai:      x 30 = 22,50
ü Monolog Edi Susilo memperoleh skor perolehan 13 dari 16. Maka dia mendapat
nilai:     x 40 = 32,50
Dengan demikian NILAI AKHIR Edi Susilo untuk ujian KALAM adalah :
18,75 + 22,50 + 32,50 = 83,75
v  Kelebihan dan kekurangan dalam tes lisan (kalam)
Adapun  kelebihan tes lisan sebagai berikut:
a) Dapat menilai kemampuan dan tingkat pengetahuan yang dimiliki peserta didik, sikap, serta kepribadiannya karena dilakukan secara berhadapan langsung.
b) Bagi peserta didik yang kemampuan berpikirnya relatif lambat sehingga sering mengalami kesukaran dalam memahami pernyataan soal, tes bentuk ini dapat menolong sebab peserta didik dapat menanyakan langsung kejelasan pertanyaan yang dimaksud.
c) Hasil tes dapat langsung diketahui peserta didik.
d) Siswa dapat mengemukakan argumentasi
e) Dapat mengevaluasi kemampuan penalaran
f) Dapat mengevaluasi kemampuan berbahasa lisan
g) Dapat melakukan pendalaman materi
h) Tidak mungkin terjadi penyontekan
i) Bahan ujian dapat luas dan mendalam
Sedangkan kelemahan-kelemahan dalam tes lisan sebagai berikut:
a) Subjektivitas pendidik sering mencemari hasil tes,
b) Waktu pelaksanaan yang diperlukan.
c) Sangat memungkinkan ketidakadilan
d) Subjektifitas tinggi
e) Memerlukan waktu yang lama
f) siswa dapat melakukan ABS
g) jika siswa memiliki sifat gugup dapat mengganggu kelancaran menjawab Kurang reliable.


C.  Kesimpulan
Mengukur kemampuan berbicara bahasa Arab adalah mengukur kemampuan siswa dalam mengekpresikan ide, pikiran dan perasaan siswa dalam bahasa Arab lisan. Hal ini bertujuan untuk mengukur kemampuan siswa dalam menggunakan bahasa Arab secara lancar dan benar dalam berkomunikasi secara lisan.
Seorang guru selain memberikan materi, harus mengevaluasi siswa yang bertujuan untuk mengetahui sejauhmana keberhasilan siswa dalam menguasai maharoh kalam tersebut. Dalam penyekorannya seorang guru juga harus dapat menyesuaikan dengan kemampuan siswa yang ajarkannya. Disamping itu, Untuk mengukur kemampuan berbicara teste, banyak cara atau bentuk yang dapat dkembangkan oleh guru sesuai tingkat kemampuan teste, yaitu dari tes yang paling dasar dan sederhana sampai pada bentuk tes yang paling kompleks dan sulit
Demikian dari uraian diatas menunjukkan bahwa keterampilan berbicara mutlak sangat diperlukan. Begitu pula keterampilan menyimak dan berbicara saling berkaitan. Dalam menyimak seorang mendapat informasi, sedangkan dalam berbicara seseorang menyampaikan pikiran, perasaan melalui alat ucap. Untuk itulah teknik berbicara atau keterampilan berbicara perlu dibina dan dikembangkan serta banyak latihan atau evaluasi-evaluai sehingga menumbuhkan minat siswa dalam berbicara.



D.    Daftar Pustaka
Effendy, Ahmad Fuad, Pendekatan, Metode, Teknik Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, Malang: Misykat, 2005
Al- Khouli,  M. Ali, Ikhtibar Lughowi, (Sholeh: Darul Falah 2000), hlm. 107-108
Hermawan, Acep, Metodelogi pembelajaran bahasa Arab. Bandung:  Rosda. 2011
Muhtadi Anshor, Ahmad. Pengajaran Bahasa Arab Media dan Metode-metodenya.  Yogyakarta: TERAS. 2009
Hamid,  Abdul, Mengukur kemampuan Bahasa Arab untuk study Islam, Yogjakarta: UIN-MALIKI PRESS, 2010
Panduan Materi Ujian Praktik Sekolah, Dependiknas: Pusat Penilaian Pendidikan – Kurikulum, 2004
Di unduh dari http://viviap.wordpress.com/2010/04/01/tes-tulis-dan-lisan/


 Di unduh dari http://viviap.wordpress.com/2010/04/01/tes-tulis-dan-lisan/. Tanggal 24 April 2012
 Di unduh dari http://viviap.wordpress.com/2010/04/01/tes-tulis-dan-lisan/. Tanggal 24 April 2012
  Ahmad Fuad Effendy, Pendekatan, Metode, Teknik Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, (Malang: Misykat, 2005), hlm. 113
 Ahmad Muhtadi Anshor , Pengajaran Bahasa Arab Media dan Metode-metodenya, (Yogyakarta: TERAS, 2009), hlm. 68-69
 Ahmad Fuad Effendy, Pendekatan, Metode, Teknik Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, (Malang: Misykat, 2005), hlm. 45-46
 Ahmad Fuad Effendy, Pendekatan, Metode, Teknik Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, (Malang: Misykat, 2005), hlm. 54
 Abdul Hamid, Mengukur kemampuan Bahasa Arab untuk study Islam, (Yogjakarta: UIN-MALIKI PRESS, 2010), Hlm.53
 M. Ali Al- Khouli, Ikhtibar Lughowi, (Sholeh: Darul Falah 2000), hlm. 107-108
 Di unduh dari http://www.scribd.com/doc/48676147/Perbedaan-Wawancara-dan-Tes-Lisan. diunduh tanggal 24 april 2012
 Abdul Hamid, Mengukur kemampuan Bahasa Arab untuk study Islam, (Yogjakarta: UIN-MALIKI PRESS, 2010), Hlm. 54-60
 Panduan Materi Ujian Praktik Sekolah, (Dependiknas: Pusat Penilaian Pendidikan - Kurikulum 2004)
 Di unduh dari http://viviap.wordpress.com/2010/04/01/tes-tulis-dan-lisan/. Diunduh pada tanggal 24 april 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar